TUGAS APLIKASI KOMPUTER
“KONDISI PENDIDIKAN DI INDONESIA (BEDA PENDIDIKAN JAMAN DULU DENGAN JAMAN SEKARANG)”
Oleh:
NAMA : SISKA ELVADININGSIH
NIM/BP : 17029076/2017
PRODI : PENDIDIKAN MATEMATIKA
DOSEN : Khairani, S.Pd., M.Pd.
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU
PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2017
KONDISI PENDIDIKAN DI INDONESIA (BEDA PENDIDIKAN JAMAN DULU DENGAN JAMAN SEKARANG)
Sebuah
peribahasa Latin yang berbunyi “Non scholae sed vitae discimus” dapat
diterjemahkan sebagai kita belajar bukan untuk nilai sekolah, namun demi nilai
kehidupan. Artinya di sini adalah tujuan utama dari sekolah bukanlah demi nilai
yang tinggi atau demi orang tua, diri sendiri atau guru/sekolah, namun yang
ingin dicapai dengan bersekolah adalah mendapat manfaat (baca: ilmu) yang bisa
dipergunakan dalam hidup.
Perbedaan pendidikan
jaman dulu dan jaman sekarang [1]
saya perbandingkan dari sisi:
I. Orientasi pendidikan
II. Institusi pendidikan
III. Tenaga pendidik
IV. Materi pendidikan
ORIENTASI PENDIDIKAN
Orientasi Pendidikan
Jaman Dulu
Pada awalnya pendidikan dimaksudkan
untuk mendidik benih manusia agar anak manusia ini tumbuh menjadi seorang yang
berakhlak tinggi dan mulia, yang berbeda dengan manusia purba. Investasi
manusia di sini berarti memanusiakan manusia, yaitu mengajarkan nilai kehidupan
kepada seorang anak manusia, yang diibaratkan benih manusia. Misi utama lembaga
pendidikan adalah mengajarkan budi pekerti, etika, saling mengalah dan
mendulukan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi. Hal ini diterapkan
dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat.
Setelah itu institusi dan tenaga pendidik baru akan mengajarkan keterampilan
yang membuat benih manusia itu mampu menyokong hidupnya sendiri di masa depan.
Orientasi Pendidikan
Jaman Sekarang
Pendidikan sekarang lebih berorientasi
kepada bagaimana meningkat kecerdasan, prestasi, keterampilan, dan bagaimana
menghadapi persaingan. Pendidikan sekarang kehilangan misi utamanya untuk
investasi karakter manusia.Pendidikan moral dan karakter bukan lagi merupakan
faktor utama seorang anak mengenyam pendidikan. Kedua hal ini dianggap menjadi
tugas para tokoh agama, tugas orang tua atau wali di rumah. Sekolah berlomba
menonjolkan kurikulum yang dipercaya bisa menciptakan generasi muda super dari
usia sedini mungkin. Para orang tua juga tergiur dan ingin anaknya menjadi
“super kid.” Kata teman-teman saya: “Biar pensiun muda!”
INSTITUSI PENDIDIKAN
Institusi Pendidikan
Jaman Dulu
Jaman dulu sekolah didirikan oleh
pemerintah atau para misionaris dan pemuka agama. SD Negeri, SMP Negeri, SMA
Negeri adalah judul sekolah yang didirikan dan beroperasi atas anggaran
Departemen Pendidikan. Para misionaris yang awalnya berasal dari Belanda
melalui misi penyebaran agama Kristiani juga mendirikan sekolah sebagai wujud
pelayanan, di samping mendirikan rumah sakit. Madrasah-madrasah,
tsanawiyah-tsanawiyah juga berdiri dan dikelola oleh pemuka agama dan mesjid.
Karena
misi utama mereka adalah pelayanan dan kembali kepada orientasi pendidikan yang
diemban, maka sekolah dalam hal ini tidak mengejar keuntungan secara materi.
Pada jaman dulu memang ada perbedaan biaya juga, yaitu antara sekolah favorit
dan sekolah yang tidak begitu unggul. Orang tua juga berupaya agar anaknya bisa
masuk sekolah favorit, walaupun harus mengeluarkan dana lebih banyak.
Institusi Pendidikan
Jaman Sekarang
Jaman sekarang orang pribadi, yayasan
atau perusahaan swasta boleh mendirikan institusi pendidikan. Hal ini membuat
misi utama sebuah institusi pendidikan tidak lagi murni untuk pelayanan sosial,
namun orang atau yayasan atau perusahaan yang mendirikan lembaga pendidikan
tersebut akan memperhitungkan biaya yang telah dikeluarkan. Ini berarti sebuah
sekolah atau lembaga pendidikan adalah suatu investasi. Agar mempunyai daya
saing satu dengan lainnya,
masing-masing menghadirkan kelebihan yang tidak dimiliki sekolah tradisional
yang sudah ada, misalnya dari segi kurikulum, sarana pendidikan, tenaga
pengajar asing dsb.
TENAGA PENDIDIK
Tenaga Pendidik Jaman
Dulu
Pada jaman ini seseorang memilih menjadi
guru lebih terdorong oleh hasrat dalam diri untuk membaktikan diri. Ia memahami
konsekuensi menjadi guru adalah melayani, dan sudah sadar bahwa ia tidak akan
kaya seperti seorang pengusaha. Di era 1980-n seorang guru yang mempunyai
kemampuan lebih bisa memberikan les privat di luar jam sekolah, itu adalah
pemasukan tambahan selain gaji pokok sebagai seorang guru. Ada juga yang
membuka warung kecil-kecilan untuk menambah lauk di rumah. Belum lagi di daerah
terpencil, tenaga mereka dihargai dengan hasil lading orang tua murid. Maka di
jaman itu kita sering mendengar istilah: “Guru adalah pahlawan tanpa tanda
jasa.”
Guru
pada jaman itu merupakan suatu profesi yang sangat terhormat, karena dianggap
memiliki pengetahuan lebih daripada masyarakat setempat. Masyarakat juga
menuntut para guru mengajarkan nilai moral kepada anak-anak mereka, di samping
pengetahuan baca tulis dan berhitung.Guru juga punya hak otoriter sebagai
pengganti orang tua bila anak berada di sekolah.Cara mendidik mereka lebih
banyak menggunakan pendekatan pribadi yang membuat interaksi guru murid lebih
erat. Hal ini terbawa sampai di luar jam sekolah karena kondisi social
masyarakat jaman dulu yang lebih bersifat kekeluargaan.
Tenaga Pendidik
Jaman Sekarang
Perekrutan tenaga pendidik sekarang
(baca: Mayoritas) lebih mengutamakan nilai kelulusan dan sertifikasi yang
dimiliki guru tersebut. Apakah guru tersebut sudah pasti kompeten mengajar
dengan kelulusan yang bernilai tinggi dan banyaknya sertifikat yang dimiliki? Belum
tentu. (Maaf, tidak ada sedikit pun maksud saya untuk menyamaratakan dedikasi
dan porensi semua guru). Namun sudah menjadi pengetahuan umum bahwa
sekolah-sekolah yang ingin merekrut guru di samping pengalaman minimal 1 atau 2
tahun juga meminta bukti berupa sertifikat yang dimiliki guru tersebut sebagai
bukti bahwa ia mempunyai ‘skill’ lebih. Tuntutan ekonomi membuat dedikasi
mengajar sebagai suatu pelayanan menjadi berkurang. Bisa dimaklumi karena media
apapun sekarang berlomba menawarkan barang konsumsi. Guru juga seorang manusia,
ia punya keluarga yang harus dihidupi. Di jaman sekarang tuntutan ekonomi
seakan tidak pernah habis, malah selalu naik setiap tahunnya.
Cara
mendidik guru sekarang juga sangat jarang menggunakan pendekatan pribadi lagi.
Wibawa seorang guru tidak lagi dianggap sebagai pihak otoriter yang mesti
disegani, dipanuti. Murid menganggap guru mengajar hanya menjalankan kewajiban,
interaksi guru-siswa terbatas pada jam sekolah. Masyarakat sekarang yang lebih
mengarah ke individualis, terutama di kota-kota besar, membuat interaksi
personal semakin berkurang. (Sekali lagi maaf…ini kecenderungan yang terlihat
menonjol di masyarakat kita). Apakah hal ini merupakan efek domino dari
tuntutan jaman atau sistem pemerintahan kita dalam menyusun kurikulum?
MATERI PENDIDIKAN
Materi
Pendidikan Jaman Dulu
Kurikulum atau materi pendidikan jaman
dulu lebih menekankan pada pembentukan nurani seorang anak, penumbuhan dan
penguatan karakter yang kelak membuatnya mampu membedakan mana yang baik dan
benar, untuk kemudian mengutamakan keadilan, kedamaian, harkat dan martabat
manusia terlepas dari perbedaan suku, agama, ras dan budaya. Terlepas suatu
sekolah itu sekolah favorit atau tidak, mereka punya kurikulum yang
sama.Selolah tidak terbagi menjadi sekolah nasional, sekolah nasional plus,
sekolah internasional. Materi yang diajarkan kepada siswa di setiap propinsi
sama, kalaupun berbeda tidak terdapat kesenjangan yang mencolok mata.
Materi
Pendidikan Jaman Sekarang
Jaman sekarang status sekolah terbagi
menjadi menjadi sekolah nasional, sekolah nasional plus, sekolah internasional.
Ada istilah diakui, terakreditasi dll. Kurikulum yang digunakan juga berbeda
satu dengan lainnya. Ada sekolah yang menggunakan kurikulum Cambridge, ada yang
menggunakan kurikulum Montessori, dan lain-lain. Penonjolan keunggulan juga
terlihat dari banyaknya jam pengajaran suatu mata pelajaran tertentu, misalnya
ada sekolah yang bahasa pengantarnya Inggris, Mandarin. Ironisnya bahasa
Indonesia hanya diberikan satu jam per minggu. Bagaimana menanamkan semangat
nasionalisme dan kebangsaan bila sejak kecil seorang anak diajari bahwa bahasa
yang lebih bergengsi dan diterima di dunia internasional itu adalah bahasa
selain bahasa Indonesia?
Di
samping itu penekanan tujuan sekolah dititikberatkan pada cara-cara untuk
meningkatkan kecerdasan, prestasi, keterampilan, dan bagaimana mempersiapkan
siswa menghadapi persaingan global di masa depan.
KESIMPULAN
Setiap
jaman mempunyai masalah dan situasi yang berbeda. Sangat naif bila kita
sekarang memaksakan kurikulum yang ada pada pendidikan jaman dulu diterapkan
pada kurikulum sekarang. Ibarat pada tahun 1960-an orang begitu bangga
mengenakan celana panjang model cut-bray,
tidak mungkin kita menuntut remaja sekarang juga memakai model yang sama. Mereka
akan terlihat aneh di mata remaja lain yang mengikuti perkembangan model legging jaman sekarang.
Itu
soal pakaian, tentunya beda sekali dengan pendidikan dan kurikulum yang
up-to-date untuk mengembangkan potensi seorang anak manusia. Lantas kurikulum
seperti apa yang ideal? Pola seperti apa yang ingin kita tanamkan kepada anak
Indonesia?
Menurut
saya bila seseorang memutuskan memilih berprofesi sebagai seorang guru
hendaklah dirinya juga berpikir, bersikap dan berperilaku seperti seorang guru.
Ada pesan dari seorang dosen saya yang berkata: “Ketika kita menghukum anak didik, kita juga sedang menghukum diri
sendiri.”
Artinya,
bila murid melakukan kesalahan maka guru juga punya andil dalam kesalahan
tersebut, dan murid akan mempunyai respek bila guru tersebut berada di
sampingnya dalam mengkoreksi kesalahan tersebut. Ketika murid dihukum menulis
ulang esainya, guru duduk mendampinginya. Guru juga merasakan apa yang
dialaminya. Anak akan segan dan respek pada orang yang mampu menyelami apa yang
dirasakannya.
SUMBER
Ø http://www.kompasiana.com/lingmajaya/beda-pendidikan-jaman-dulu-dan-jaman-sekarang_551931c8a333112115b659a9



Post A Comment:
0 comments so far,add yours