BLOKIR HOAX DEMI BERSIHNYA POLITIK BANGSA
Belakangan ini sedang
marak dibicarakan publik mengenai penyebaran berita palsu. Media sosial
mengambil peran terbesar dalam penyebaran berita palsu (fake news) ini, atau yang sering dikenal dengan hoax. Pengguanaan media sosial saat ini yaitu
dalam tingkat yang tinggi, dan dinilai mampu mentransfer informasi dengan
cepat. Dari kalangan anak-anak sampai beberapa orang yang sudah lanjut usia pun
masih menggunakan media sosial dalam kehidupann sehari-hari. Sudah seyogyanya
jika berita hoax tersebar dengan
cepat.
Hoax
adalah usaha untuk menipu atau mengakali pembaca/pendengarnya untuk mempercayai
sesuatu, padahal sang pencipta berita palsu tersebut tahu bahwa berita tersebut
adalah palsu. Hoax bertujuan untuk
membuat opini publik, menggiring opini publik, membentuk persepsi juga untuk hufing fun yang menguji kecerdasan dan
kecermatan pengguna internet dan media sosial. Tujuan penyebaran hoax beragam tapi pada umumnya hoax disebarkan sebagai bahan lelucon
atau sekedar iseng, menjatuhkan pesaing (black
campaign), promosi dengan penipuan, ataupun ajakan untuk berbuat amalan –
amalan baik yang sebenarnya belum ada dalil yang jelas di dalamnya. Namun ini
menyebabkan banyak penerima hoax
terpancing untuk segera menyebarkan kepada rekan sejawatnya sehingga akhirnya hoax ini dengan cepat tersebar luas
(Rahadi, 2017).
Saat ini berita hoax salah satunya yang ramai di media
masa adalah tentang pemilu yang akan di adakan bulan April mendatang. Para pendukung
dari pihak yang berbeda berusaha menyebarkan berita-berita positif mengenai pihak
yang mereka dukung, namun tidak sedikit juga yang menyebarkan berita mengenai
kelemahan-kelemahan dari calon lain, bisa jadi disebutkan utuk menjatuhkan
calon lain. Hal ini terjadi bukan dalam ruang lingkup tim sukses saja, tapi
dari seluruh pelosok negeri ini membicarakan mengenai pemilu tersebut.
Sangat disayangkan jika
para pendukung dari kedua belah pihak memanfaatkan media sosial untuk membuat
berita hoax mengenai pasangan calon
lainnya. Dan ini sedang banyak dibicarakan dalam khalayak ramai. Banyak orang
yang tidak dapat membedakan mana yang berita asli dan hoax. Saking cepatnya berita itu tersebar, pemerintahan kesulitan
dalam mendeteksi akun-akun yang pertama kali membuat berita hoax tersebut.
Salah satu upaya yang
dilakukan pemerintah untuk mengurangi penyebaran berita palsu (hoax) adalah dengan memblokir situs
internet (website) yang dinilai
sebagai sumber informasi palsu. Terkait kebijakan pemblokiran situs tersebut,
pemerintah telah menegaskan bahwa dalam mengambil keputusan untuk memblokir
situs tertentu pertimbangan utamanya adalah isi (content) dari situs bersangkutan bukan afiliasi politik pengelola
situs tersebut (Siswoko, 2017).
Meskipun demikian, ada
banyak akun yang masih menyebarkan berita-berita hoax, karena pemerintah belum mendeteksinya secara keseluruhan.
Berita hoax yang telah disebarkan ke
media sosial dan juga internet pada umumnya, akan berdampak ke kehidupan nyata.
Jika seorang yang telah membaca berita tersebut tanpa menyelidiki apakah berita
tersebut benar atau salah, maka itu akan dibicarakan di kehidupan nyata yang
nantinya akan menyebar bahkan pada orang-orang yang tidak memiliki posel
sekaligus. Kondisi yang seperti ini akan menimbulkan konflik dalam diri
masyarakat ataupun dengan orang lain.
Hal sedini mungkin yang
dapat kita lakukan adalah memulainya dari dalam diri kita sendiri yaitu dengan
memanfaatkan media sosial dengan baik, memaknai setiap kata dengan alasan dan
kebenaran, bila perlu kita hendaknya menyelidiki setiap informasi yang kita
baca. Dan jangan sekali-kali menyebarkan berita tanpa ada bukti yang jelas dari
berita tersebut.
Pemilu sudah semakin
dekat, dan berita-berita di media sosial atau dari mulut ke mulut juga semakin
banyak. Pemerintah sendiri akan kewalahan menghadapi begitu banyak berita yang
bermunculan setiap harinya. Belum lagi mendeteksi mana yang hoax dan mana yang asli.
Dari salah satu
penelitian yang telah dilakukan Siswoko tahun 2017. Dapat dilihat hasil yang
diperoleh adalah sebagai berikut
Dari gambar tersebut jawaban
responden dianataranya melakukan croscheck/klarifikasi terlebih dahulu,
memberikan edukasi kepada masyarakat, ada kontrol /pengawasan dari pihak
keluarga, tidak mudah terprovokasi, diacuhkan saja, melakukan pemblokiran oleh
pihak yang berwewenang, melakukn flagging dan sebagainya.
Ternyata cara yang
paling efektif dalam menghambat tersebarnya hoax
adalah dengan melakukan klarifikasi terlebih dahulu terhadap berita yang kita
baca. Jika kita sudah mengtahui bahwa berita yang kita baca itu adalah hoax, maka sebaiknya yang kita lakukan
adalah melakukan klarifikasi dengan menghubungi pembuat berita secara langsung,
jika itu tidak memungkinkan maka akan lebih baik kita yang membuat klarifikasi
itu sendiri dengan menyebarkan berita asli atau benar yang relevan dengan
berita hoax yang kita baca. Terlebih
lagi mengenai calon-calon yang akan menjabat sebagai petinggi negara. Kita lah
yang akan menentukan nasib bangsa ini, siapa yang akan duduk di bangku politik
yang akan menata bangsa ini untuk menjadi yang lebih baik.
Jika setiap orang sudah
menanamkan bahwa mereka akan melawan hoax,
maka berita-bertita yang berrbau hoax
pun akan bisa di minimalisir. Pemerintah hanya perlu meneliti tidak banyak akun
untuk menemukan sumber hoax tersebut.
dengan meningkatkan kecepatan berita dari pihak pemerintah, akun-akun penyebar hoax ini pun akan merasa kalah cepat dan
mengurungkan niatnya untuk menyebarkan berita hoax nya. Disisi lain, membuat akun pemerintah menjadi penyebar
berita tercepat akan berdampak positif untuk orang banyak, sehingga para
pengamat dari luar (politikus) atau pun pengamat awam akan lebih memilih
percaya terhadap informasi yang diberikan pemerintah dibanding akun-akun yang
belum tentu mempunyai sumber yang jelas. Tentu saja ini akan berdampak positif
jika bisa diterapkan dalam waktu secepatnya, karena pemilu untuk tahun ini
sudah semakin dekat. Dan hal ini tentu saja tidak dipandang dalam kurun waktu
dekat saja, namun juga untuk kedepannya, menuju politik Indonesia bersih tanpa
adanya campur tangan orang-orang tak bertanggung jawab. Hendaknya setiap orang
mampu lebih teliti dalam menyaring informasi, bukan hanya tugas pemerintah,
tapi kita harus mulai dari diri kita sendiri.
Referensi
Rahadi,
Dedi Rianto. 2017. Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan (Perilaku Pengguna dan
Informasi Hoax di Media Sosial.
Siswoko,
Kurniawan Hari. 2017. Kebijakan Pemerintah Menangkal Berita Palsu atau Hoax.
I'm Siska BSB.
