February 2018
PENANTIAN HINGGA AKHIR WAKTU



Wajah yang masih terlintas di fikiranku
Senyuman yang masih membekas di hatiku
Tak sedetikpun dia hilang
Di fikiran ku
          Saat jiwa terus memaksa untuk pergi
          Saat hati mulai membeku untuk menjauh
          Tapi jantung ini masih berdetak untuk bertahan
Demi penantianku selama ini
Demi setiaku sampai saat ini
Ku masih menantikan
Keajaiban itu datang padaku
          Ku rangkai bunga untuk nya
          Dengan harapan dia akan datang
          Hingga sampai saat nya
          Tak ku lihat lagi indahnya dunia

"SISKA ELVADININGSIH"

MALAM DALAM KENANGAN


Kuat ku tahan tangis

Di malam yang gelap tanpa suara

Hanya cahaya yang membekas di balik jendela dan di atas meja yang kusam itu

Jauh melayang pikiran ini

menguak masa lalu yang tertutup itu


Hati menahan tangis dengan  mata yang terpejam

Seakan cahaya sudah tak mampu muncul lagi

Pperlahan ku buka kotak yang kunamakan dengan kenangan

Kenangan...

Hal yang tak bisa kuhapus dari pikiranku

Segala yang kulakukan dimasa lalu tersimpan baik di hati kecilku

Buruk baikkah itu aku tak bisa menghapusnya seperti biasa aku menghapus goresan tintaku


Air bening itu mulai jatuh dari mataku

menetes dengan perlahan mengingat apa yang terjadi

Melihat satu per satu

Kenangan yang tersimpan dengan lusuh itu

Aku mulai membuka

Perlahan-lahan membacanya

Berapa banyak kesalahan uang telah aku lakukan

Dan akhirnya membuat hati ini luluh tak berkutip

Aku sadar...

Untuk kesekian kalinya

Terima kasih masa laluku

Aku sekarang mengerti, karenamu aku bisa bertahan

Dan aku terus berubah untuk sebuah kebaikan yang tertunda



"Siska Elvadiningsih"
ANTARA IMPIAN DAN KEIKHLASAN


Embun masih datang saatmatahari tak sanggup tersenmyum
Begitu juga dengan pagi yang masih terlihat
Ketika hujan terus menangis
Ku duduk membisu
Di tepi telaga yang tak berpenghuni
Merenungi apa yang aku inginkan
tapi mustahil untuk ku lakukan
ku coba untuk melihat
apa yang telah ku lakukan di belakang
tapi, ikan di telaga itu selalu berlari untuk terus di depan
seakan menyruhku untuk melangkah maju

pagi itu hampir berlalu,
ku coba berfikir saat air mataku mulai menyentuh pipiku
apa yang ku lakukan
membuat ku di tertawakan oleh burung nuri yang bernyanyi

tidak ,
itu bukan akhir dari semuanya
ku harus membuktikan
tak perlu uang untuk bahagia
tak perlu harta untuk mendapat nama
tak perlu jabatan untuk disukai
tak perlu ketenaran untuk dikenali

semua orang memang punya cita-cita
tapi, pertanyaannya, apakah sama cita-citaku dengan mereka?
tentu tidak,
mungkin orang berharap jadi insinyur
tapi apakah salah, saat orang berharap jadi pelukis?
Hanya hati yang bisa menjawab

Saat pohon pinus yang ditebang
Dan di ambil tubuhnya
Apakah mereka yang menebang pernah bertanya
Apakah pohon pinus itu rela untuk ditebang?

Begitu juga keinginan yang tak pernah terungkap
Hati yang selalu terpaksa melakukan hal yang tak diinginkan
Tapi dia tak pernah menolak
Demi kebahagiaan orang yang dicintainya

Tapi cita-cita itu sama sekali tak salah
Melukis bukanlah hal yang buruk
Kapankah jiwa yang terikat akan bebas?
Kapankah jiwa itu bisa melakukan hal yang dia inginkan?

Kesempatan itu sudah di depan mata
Tapi hatinya masih berfikir akan cita-cita yang sudah dia mulai
Bukan tekadnya yang kurang
Bukan niatnya yang belum sempurna
Tapi perasaannya yang tak bisa melihat antara impian dan keikhlasan

Tangisan yang dia simpan di hatinya
Yang hanya dia keluarkan
Saat buku dan pensil yang menemaninya
Saat sepinya telaga di sejuknya senja
Sekarang, bukan penyesalan tentang hidupnya
Tapi, awal yang sudah dia mulai
Bukan mudah untuk mengakhiri
Dan tak mudah untuk memulai kembali

Tapi sekarang, dia sudah yakin
Dia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan lagi
Pensil dan kertas yang sudah ada di tangannya
Dia mulai menggoreskan tintanya di kertas
Hingga terlihat cahaya dan lubang di pipi mungilnya.

"Siska Elvadiningsih"

Takdir Kehidupan


Tersenyumlah. . . 
Saat kau masih bisa tersenyum
Dalam kebahagiaan mu
Karna suatu hari nanti
Senyumanmu akan menjadi tangisan
Dan saat takdir itu datang
Kau akan kehilangan senyumanmu
Untuk selamanya

Mata indah yang selalu bersinar
Bibir mu yang selalu tersenyum
Suatu saat mata itu akan mengeluarkan air mata
Dan bibir itu akan terdiam selamanya
Kau akan menyesali jejak hidup yang pernah kau jalani
Duri yang pernah kau pijaki
Tanpa peduli duri itu yang menusuk kehidupanmu

Kau akan merasakan
Betapa pahitnya hidup ini
Dan kau akan kehilangan segala-galanya
Karna itu,
Berjuangalah demi impianmu
Karna takdir mu
Akan selalu mengikutimu
Kami yang Lemah


Manusia sedang sibuk Tuhan

Manusia sedang diperbudak oleh kenikmatan dunia-Mu

Iman yang begitu lemah

Yang melalaikan seruan-Mu

Dan aku ada disana



Panggilan atas nama-Mu

Seakan tak berarti, tak ada yang sanggup berkutip

Aku ada disana

Hati yang tersirat ingin pergi

Tak sanggup melawan pikiran yang salah ini

Menutupi jalan dimana kebenaran berpijak

Aku ada disana


Semua membisu

Mendengarkan ilmu dari makhluk-Mu

Yang sama diperbudak oleh waktu

Tak ada komentar

Dan aku ada disana


Tuhan

Dimana akau harus berpijak

Sementara panggilan-Mu terngiang ditelingaku

Seakan mendetakkan jantungku lebih kencang

Mengalir di darahku begitu deras

Aku dilumpuhkan oleh waktu

"Siska Elvadiningsih"