ANTARA IMPIAN DAN KEIKHLASAN
Embun masih datang saatmatahari tak
sanggup tersenmyum
Begitu juga dengan pagi
yang masih terlihat
Ketika hujan terus
menangis
Ku duduk membisu
Di tepi telaga yang tak
berpenghuni
Merenungi apa yang aku
inginkan
tapi mustahil untuk ku
lakukan
ku coba untuk melihat
apa yang telah ku
lakukan di belakang
tapi, ikan di telaga
itu selalu berlari untuk terus di depan
seakan menyruhku untuk
melangkah maju
pagi itu hampir
berlalu,
ku coba berfikir saat
air mataku mulai menyentuh pipiku
apa yang ku lakukan
membuat ku di
tertawakan oleh burung nuri yang bernyanyi
tidak ,
itu bukan akhir dari
semuanya
ku harus membuktikan
tak perlu uang untuk
bahagia
tak perlu harta untuk
mendapat nama
tak perlu jabatan untuk
disukai
tak perlu ketenaran
untuk dikenali
semua orang memang
punya cita-cita
tapi, pertanyaannya,
apakah sama cita-citaku dengan mereka?
tentu tidak,
mungkin orang berharap
jadi insinyur
tapi apakah salah, saat
orang berharap jadi pelukis?
Hanya hati yang bisa
menjawab
Saat pohon pinus yang
ditebang
Dan di ambil tubuhnya
Apakah mereka yang
menebang pernah bertanya
Apakah pohon pinus itu
rela untuk ditebang?
Begitu juga keinginan
yang tak pernah terungkap
Hati yang selalu
terpaksa melakukan hal yang tak diinginkan
Tapi dia tak pernah
menolak
Demi kebahagiaan orang
yang dicintainya
Tapi cita-cita itu sama
sekali tak salah
Melukis bukanlah hal
yang buruk
Kapankah jiwa yang
terikat akan bebas?
Kapankah jiwa itu bisa
melakukan hal yang dia inginkan?
Kesempatan itu sudah di
depan mata
Tapi hatinya masih
berfikir akan cita-cita yang sudah dia mulai
Bukan tekadnya yang
kurang
Bukan niatnya yang
belum sempurna
Tapi perasaannya yang
tak bisa melihat antara impian dan keikhlasan
Tangisan yang dia
simpan di hatinya
Yang hanya dia
keluarkan
Saat buku dan pensil
yang menemaninya
Saat sepinya telaga di
sejuknya senja
Sekarang, bukan
penyesalan tentang hidupnya
Tapi, awal yang sudah
dia mulai
Bukan mudah untuk mengakhiri
Dan tak mudah untuk
memulai kembali
Tapi
sekarang, dia sudah yakin
Dia
tak ingin menyia-nyiakan kesempatan lagi
Pensil
dan kertas yang sudah ada di tangannya
Dia
mulai menggoreskan tintanya di kertas
Hingga
terlihat cahaya dan lubang di pipi mungilnya.
"Siska Elvadiningsih"


Post A Comment:
0 comments so far,add yours